Lanjut ke konten

Mengenal Imunisasi

29/12/2011

Kita seringkali mendengar adanya program imunisasi, terutama imunisasi yang diselenggarakan untuk bayi dan balita. Hmm.. Sebenarnya apa sih imunisasi itu? Apa manfaatnya untuk kesehatan? Dan kenapa kok kebanyakan program imunisasi ini untuk bayi dan balita? Yuk kita kupas bersama-sama di sini.

Imunisasi berasal dari kata imun yang berarti kebal atau resisten. Imunisasi artinya pemberian kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit dengan cara pemberian vaksin. Tujuan imunisasi ini untuk pencegahan dan perlindungan terjadinya infeksi atau penyakit tertentu. Pemerintah mencanangkan imunisasi sebagai tindakan yang efektif untuk menurunkan insidensi terjadinya penyakit yang dapat membahayakan bahkan yang menyebabkan kematian. Beberapa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain hepatitis B, campak, polio, difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus, cacar air, dan TBC.

Vaksin yang diberikan saat imunisasi merupakan bahan antigenik yang berasal dari virus atau bakteri yang telah dilemahkan. Materi genetik yang dimiliki virus dan bakteri tersebut dinonaktifkan sehingga tidak membahayakan. Cara melemahkan virus dapat dilakukan menggunakan panas atau bahan kimiawi. Selain itu terdapat pula pengembangan imunomolekuler dalam pembuatan vaksin yang aman yaitu dengan cara menggunakan protein atau peptida tertentu dari virus tersebut.

Pelaksanaan imunisasi biasanya dapat dilakukan kepada seseorang dengan cara suntik di bagian tubuh tertentu, seperti di bagian lengan dan paha, atau dengan cara diminum/ditelan karena vaksinnya berupa cairan.

Nah, bagaimana sih mekanismenya sehingga vaksin bisa bekerja sebagai pembentuk sistem kekebalan tubuh dan pencegah penyakit tersebut?

Vaksin yang merupakan antigen yang telah dilemahkan tadi akan masuk ke dalam tubuh manusia. Sistem imun tubuh akan mengenalinya sebagai benda asing dan menstimulasi pembentukan antibodi. “Tentara” antibodi dalam tubuh kita akan bekerja untuk menghancurkannya, antibodi bereaksi seakan-akan memang ada infeksi yang menyerang tubuh kita. Selain berfungsi untuk menangkal benda asing yang masuk, antibodi juga mengingat bentuk antigen yang telah masuk (fungsi memori) sehingga jika suatu waktu tubuh terpapar antigen yang sama (berupa penyakit) maka tubuh akan bisa melawannya dengan cepat dan infeksi penyakit tersebut bisa dicegah. Singkatnya imunisasi ini berguna untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap virus, bakteri, dan lainnya.

Imunisasi lebih sering difokuskan pada balita dan anak-anak karena sistem kekebalan tubuh mereka belum terbentuk dengan sempurna, tidak seperti orang dewasa, sehingga anak-anak lebih rentan terkena serangan penyakit dan infeksi. Selain itu, program imunisasi ini biasanya tidak hanya dilaksanakan satu kali saja, tetapi dilakukan secara bertahap dan lengkap.

Berikut adalah imunisasi dasar yang wajib diberikan pada bayi: (www.imunisasi.net) 

  • Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) diberikan satu kali untuk mencegah penyakit Tuberkulosis (TBC). Diberikan segera setelah bayi lahir di tempat pelayanan kesehatan atau mulai 1 (satu) bulan di Posyandu.
  • Imunisasi Hepatitis B diberikan satu kali untuk mencegah penyakit Hepatitis B yang ditularkan dari ibu ke bayi saat persalinan.
  • Imunisasi DPT-HB diberikan tiga kali untuk mencegah penyakit Difteri, Pertusis (batuk rejan), Tetanus dan Hepatitis B. Imunisasi ini pertama kali diberikan saat bayi berusia 2 (dua) bulan. Imunisasi berikutnya berjarak waktu 4 minggu. Pada saat ini pemberian imunisasi DPT dan Hepatitis B dilakukan bersamaan dengan vaksin DPT-HB.
  • Imunisasi polio diberikan 4 (empat) kali dengan jelang waktu (jarak) 4 minggu untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit polio.
  • Imunisasi campak untuk mencegah penyakit campak. Imunisasi campak diberikan saat bayi berumur 9 bulan.

 Tapiii.. jangan lupa ada yang perlu kita perhatikan juga dalam pelaksanaan imunisasi ini. Tidak jarang bayi/balita yang diimunisasi mengalami sedikit efek samping akibat kerja antibodi tubuh. Namun tidak usah khawatir, asalkan kita tetap waspada. Efek samping ini sebenarnya membuktikan bahwa vaksin tersebut sedang bekerja dengan tepat. Contohnya pada imunisasi BCG, setelah 2 minggu terjadi pembengkakan kecil dan merah di tempat suntikan. Setelah 2–3 minggu kemudian pembengkakan akan menimbulkan luka kecil. Luka tersebut  akan sembuh sendiri dengan meninggalkan parut kecil di area penyuntikan. Pada imunisasi DPT, kebanyakan bayi menderita panas pada sore hari setelah imunisasi. Panas akan turun dan hilang dalam 2 hari.

Hmm.. Sudah cukup luas nih bahasan kita. Jadi, imunisasi itu penting juga lho untuk pencegahan penyakit. Lagi pula Risiko efek samping vaksinasi ini lebih kecil dibandingkan dengan risiko terjangkit penyakit tersebut.  Prinsip lebih baik mencegah daripada mengobati terbukti pada pelaksanaan imunisasi ini 🙂

Sumber:

Vitamin E

22/12/2011

Akhirnya setelah sekian lama di sibukkan dengan proses perubahan status calon apoteker menjadi apoteker, sekarang berkesempatan untuk “bercerita” melanjutkan kisah vitamin  yang sempat dibahas pada artikel sebelumnya. Berawal dari maraknya perbincangan dan juga penggunaan vitamin E baik berupa sediaan obat, suplemen oral maupun topikal pada produk-produk kosmetik, nampaknya ulasan tentang vitamin E  cukup menggiurkan untuk digali.

Vitamin E atau dikenal dengan istilah tocopherol merupakan vitamin larut lemak yang banyak terkandung dalam susu, mentega, sayuran hijau, selada, kacang-kacangan, telur, dan buah-buahan.Vitamin ini sering kali disebut-sebut sebagai antioksidan dengan beragam “kepercayaan” pada penggunanaannya. Berikut adalah bahasan tentang efek farmakologi vitamin E:

Antioksidan

Vitamin E merupakan salah satu dari sekian jenis vitamin yang memiliki efek antioksidan. Antioksidan adalah zat yang dapat membantu melindungi tubuh kita dari serangan radikal bebas, selengkapnya dapat dilihat pada artikel sebelumnya tentang antioksidan.

Vitamin E sebagai antioksidan ini menghambat kelanjutan reaksi radikal bebas. Dengan asupan vitamin E dapat mencegah induksi kerusakan atau pecahnya sel darah merah (hemolisis). Hal tersebut didukung dengan hasil penelitian, bahwa dengan rendahnya  konsentrasi vitamin E dalam plasma darah, berkorelasi dengan peningkatan hemolisis oleh agen pengoksidasi.

 Pada penanganan pasien Alzheimer atau demensia,juga menggunakan vitamin E, meskipun mekanisme pastinya belum diketahui. Namun, diketahui bahwa vitamin E dapat berinteraksi dengan membran sel, menangkap radikal bebas, dan menghentikan reaksi pengerusakan sel. Sedangkan penyakit Alzheimer ini melibatkan reaksi oksidasi dan akumulasi penumpukkan radikal bebas. Oleh karena itu, pemberian vitamin E pada pasien Alzheimer atau demensia dapat menghambat perkembangan penyakittersebut.

Berdasarkan data epidemiologi  menunjukan bahwa peningkatan asupan antioksidan seperti vitamin E berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Vitamin E menghambat peroksidasi lemak pada LDL (Low Density Lipoprotein), sehingga dapat membatasi pembentukan plak pada pembuluh darah jantung (atherosklerosis) dan manifestasi klinisnya. Vitamin E juga menghambat agregasi dan adhesi platelet.

 Masih berdasarkan pembuktian epidemiologi, yang menyatakan bahwa konsumsi sayur dan buah-buahan menurunkan risiko kanker, maka dilakukanlah uji klinik penggunaan antioksidan (Viramin E, β-karoten). Dari penelitian tersebut, menyatakan bahwa suplemen antioksidan dapat menurunkan risiko kanker.

 

Imunologi

Hasil penelitian menunjukan bahwa vitamin E dapat meningkatkan respon imun pada lanjut usia dan menghambat produksi prostagalndin E2 yaitu hormon pengaturan dilatasi dan konstriksi pembuluh darah, berkaitan dengan respon inflamasi dan infeksi yang dapat menginduksi demam.

Efek pada Kulit

Selain sebagai antioksidan, vitamin E juga dikenal khasiatnya terhadap perlindungan dan pemulihan kerusakan kulit. Pembahasan efek vitamin E pada kulit ini sudah banyak dikaji berikut dengan klaim khasiatnya, bahkan dari jurnal ilmiah pun terdapat beragam kesimpulan. Diantaranya menyatakan bahwa kombinasi vitamin E dan C mengurangi reaksi terbakar sinar matahari, sehingga dapat menurunkan risiko kerusakan kulit karena paparan sinar ultraviolet (Bernadette et al, 1998). Sedangkan untuk penyembuhan bekas luka operasi pada kulit, sebuah pengujian menyatakan sebanyak 90% kasus dalam penelitian menunjukan bahwa pemberian vitamin E secara topikal tidak memberikan efek dalam penyembuhan (Baumann & Spencer, 1999).

 

Kekurangan Vitamin E

Kekurangan vitamin E umumnya jarang terjadi, karena seharusnya dapat  terpenuhi dengan asupan makanan sehari-hari. Kekurangan vitamin E biasanya terjadi pada individu yang tidak dapat menyerap vitamin atau terjadi keabnormalan genetik. Kekurangan vitamin E pada orang dewasa tidak mengakibatkan suatu penyakit khusus, hanya saja fakta dilapangan membuktikan bahwa dengan asupan vitamin E dapat menurunkan risiko terserang penyakit kronis, terutama penyakit jantung. Kekurangan vitamin E umumnya dapat menimbulkan periferal neuropati, yaitu kerusakan sistem syaraf  tepi. Sedangkan pada bayi prematur, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan iritasi, edema (volum cairan di luar sel meningkat), anemia hemolitk, dan trombosis yaitu pembekuan darah yang dapat menyebabkan penyumbatan pembuluh darah. Kekurangan vitamin E ini ditangani dengan pemberian suplemen vitamin E sebelum terjadi kerusakan syaraf permanen.

Kebutuhan Vitamin E

The National Academy of Sciences (NAS) merekomendasikan dosis vitamin E untuk ibu hamil usia 14-50 tahun sebesar 15 mg, dan untuk ibu menyusui sebesar 19 mg. Sedangkan berdasarkanKeputusan BPOM tahun 2003 Angka Kecukupan Gizi (AKG) vitamin E adalah sebagai berikut:

Kategori

Vitamin E

Umum

10 mg

Bayi 4-12 bulan

5 mg

Bayi 2-6 bulan

5 mg

Vitamin E, seperti vitamin-vitamin lainnya yang juga tergolong dalam mikronutrisi memang hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil pada kondisi normal. Oleh karena itu, dengan asupan makanan sehat sehari-hari pun kebutuhan vitamin E ini sudah terpenuhi. Bijak memilih dan memutuskan, karena anda lah yang paling mengerti kebutuhan sehat untuk tubuh anda, JJ.

Referensi :

American Society of Hospital Pharmacist. AHFS drug information 2007. Bethesda: American Society of Health-System Pharmacists, p.3645-3649

Bernadette et al. 1998.Protective effect against sunburn of combined systemic ascorbic acid (vitamin C) and d-α-tocopherol (vitamin E). Journal of the American Academy of Dermatology, Volume 38, Issue 1, p.45-48

Baumann & Spencer. 1999. The effects of topical vitamin E on the cosmetic appearance of scars. University of Miami Department of Dermatology and Cutaneous Surgery, Miami, Florida, USA

 

Toilet Umum.. Why not?!

15/12/2011

Hello guys, long time no see! 🙂 For this time, kita akan coba sharing info kesehatan berkaitan dengan upaya menggunakan toilet umum yang higienis.

 Yup! Toilet umum.. Memangnya ada apa dengan toilet umum?

 Untuk seseorang yang sedang dalam perjalanan ataupun bepergian ke suatu tempat, terkadang harus berinteraksi dengan yang namanya toilet umum. Namanya juga toilet umum, entah sudah berapa banyak orang dengan derajat kesehatan berbeda menggunakannya. Selain itu, pengetahuan masyarakat khususnya masyarakat Indonesia tentang penggunaan toilet secara higienis pun masih kurang sehingga membuat tingkat kebersihan toilet umum pun semakin menurun. Dalam hal toilet umum, menurut pendiri Asosiasi Toilet Indonesia, Indonesia menduduki peringkat 12 terburuk dari 18 negara-negara di Asia. Hmm.. Serem yah? 😦

Kenapa harus higienis?

 Kebersihan toilet umum yang rendah, membuat semakin besarnya resiko seseorang untuk terserang penyakit. Hal ini dikarenakan, kebersihan toilet yang rendah membuat bakteri, virus, maupun organisme pembawa penyakit (carrier) dapat berkembang biak dengan baik. Sudah banyak penelitian yang membuktikan banyaknya jenis dan jumlah bakteri, virus, maupun carrier yang dapat berkembang biak di toilet, terutama toilet umum. Mulai dari Streptococcus, Staphylococcus, E. coli, Shigella, virus Hepatitis A, virus flu, hingga carrier penyakit seksual seperti Chlamydia dan Gonorrhea bisa ditemukan di toilet umum. Bakteri, virus, maupun carrier tersebut dapat menyebabkan berbagai penyakit antara lain: bisul, tipus, muntaber, diare, infeksi saluran reproduksi, infeksi saluran kemih hingga penyakit seksual.

 Wow! Banyak juga yaa.. Namun, jangan lantas karena takut akan banyaknya bakteri dan virus yang mungkin ada di toilet, kita jadi menahan diri untuk ke toilet. Karena menahan diri ke toilet tidak baik juga untuk kesehatan, misalnya saja dalam hal menahan buang air kecil dapat mengakibatkan penyakit infeksi saluran kemih yang sering dikenal dengan anyang-anyangan.

 Jangan khawatir, selama sistem imun tubuh kita baik serta selalu menerapkan cara higienis dalam menggunakan toilet, kita tidak akan mudah terserang penyakit. Itulah pentingnya kita untuk tahu dan juga mengaplikasikan pengetahuan kita tentang bagaimana menggunakan toilet umum secara higienis.

Lalu, bagaimanakah cara menggunakan toilet umum secara higienis?

 Dalam menggunakan toilet umum secara higienis, ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, antara lain:

1. Pilih toilet yang bersih

Pilih toilet yang nampak bersih baik secara kasat mata maupun berdasarkan bau yang ditimbulkan. Sebaiknya pilih toilet yang berada paling dekat dengan pintu keluar kamar mandi. Hal ini dikarenakan, toilet yang berada paling dekat dengan pintu keluar kamar mandi merupakan toilet yang memiliki jumlah bakteri paling rendah.

 2. Gunakan kertas toilet atau tisu toilet sebagai alas toilet

Hal ini dapat membantu untuk menghindari interaksi dengan kuman yang terdapat di toilet. Selain sebagai alas toilet, tisu toilet juga dapat digunakan untuk membersihkan tubuh. Sebelum memakai toilet, pastikan terlebih dahulu ketersediaan kertas ataupun tisu toilet. Bila perlu, sediakan tisu toilet sendiri.

 3. Hindari tas ataupun celana menyentuh lantai

Walaupun lantai toilet terlihat bersih, disarankan untuk tidak menaruh tas di lantai. Hal ini dilakukan untuk menghindari terbawanya kuman dan bakteri yang ada di lantai toilet. Hal yang sama juga dilakukan terhadap celana. Usahakan celana tidak menyentuh lantai saat sedang dilepaskan.

 4. Jangan lupa untuk Flush toilet

Jangan pernah lupa untuk membilas toilet ketika akan keluar dari kamar mandi agar mikroorganisme dari air toilet tidak menempel di tubuh dan membuat pengguna selanjutnya merasa tidak nyaman atau jijik.

 5. Mencuci tangan

Pastikan untuk mencuci tangan dengan sabun dan air hangat jika tersedia. Jangan lupa untuk menggosok kedua sisi telapak tangan dan sela-sela jari.

 6. Menggunakan alas tangan ketika memegang kran, pengering tangan, dan gagang pintu toilet umum

Hal ini dilakukan untuk mencegah interaksi dengan kuman yang terdapat pada kran, pengering tangan, dan juga gagang pintu.

See, ternyata menggunakan toilet umum secara higienis tidak susah kan, kawan?! 🙂 Jangan lupa untuk menerapkannya yaa! Karena bagaimana pun mencegah lebih baik daripada mengobati 🙂

Referensi:

http://www.wolipop.com/6-tips-terhindar-dari-kuman-di-toilet-umum tanggal akses: 2 Desember 2011

http://www.idsociety.org/ tanggal akses: 2 Desember 2011

http://www.textbookofbacteriology.net/ tanggal akses: 2 Desember 2011

Berkenalan dengan Sabun Natural

08/12/2011

Apa yang kamu ketahui tentang sabun natural?

 

“Sabun yang terbuat dari minyak kelapa, buah-buahan, daun. Pokoknya bahannya berasal dari alam.” – (Sigit Dwi Nugroho, Pegawai Swasta)

 

“Sabun yang tidak pakai bahan kimia” – (Rifky Ujianto, Magister Urban Design ITB)

 

“Sabun yang memakai bahan alami, mungkin pelembabnya atau komposisinya sehingga gak bikin kulit kering.” – (Endra Rintovani, Graphic Designer)

 

“Belum pernah denger” – (Dahlia Dewanti, VICO Supply Chain Management)

 

“Sabun yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak berbahaya, biasanya memakai bahan-bahan alami.” – (Sumayyah Abdurrahman, Mahasiswi Farmasi ITB)

 

“Sabun yang terbuat dari bahan alam.” – (Adysti R.F, Junior Finance Consultant-Wellington)

 

“Sabun yang tidak berbusa dan warnanya bening.” – (Ricky Alexander, Pegawai Swasta)

 

Berdasarkan testimoni para responden yang secara random diberi pertanyaan mengenai apa yang mereka ketahui tentang sabun natural, hampir semuanya menjawab bahwa sabun natural berasal dari bahan alam. Well, tidak salah, namun masih kurang tepat.

Untuk mengetahuinya secara lengkap, mari kita simak penjelasan dari narasumber kami yaitu Amirah Adlia Alkaff, M.Si., Apt, penanggung jawab di bagian Research and Development Wangsa Jelita.

Apa itu sabun natural dan apa yang membedakan sabun natural dengan sabun biasa?

Sabun-sabun lain yang beredar di pasaran, biasanya menggunakan sodium lauryl sulfate (SLS) sebagai deterjen untuk mengangkat kotoran-kotoran yang menempel pada kulit sehingga kulit menjadi bersih. Sabun natural, berbeda dengan sabun lainnya, mengganti SLSdengan minyak alami kombinasi antara olive oil, coconut oil, dan palm oil.

Mekanisme minyak alami dalam membersihkan kotoran pada kulit mengikuti teori like dissolve like. Maksudnya, kotoran biasanya cenderung bersifat non-polar dan minyak juga bersifat non-polar. Sehingga, karena memiliki kepolaran yang cenderung mirip, maka minyak dapat mengangkat kotoran.

Adapun kekurangan dari penggunaan SLS sebagai pengangkat kotoran ini yaitu, selain mengangkat kotoran yang menempel pada kulit,SLS juga mengangkat minyak-minyak alami yang dihasilkan oleh kulit yang berfungsi sebagai pelembab alami, akibatnya kulit menjadi kering. Pada kondisi tertentu, SLS dapat mengakibatkan terjadinya iritasi pada kulit, mata, dan membran mukosa.

Mengapa memilih menggunakan kombinasi ketiga minyak alam tersebut?

Well, ketiga minyak alam itu memiliki fungsi yang berbeda-beda. Coconut oil berfungsi untuk membantu pembentukan busa dan sekaligus sebagai emollient, palm oil berfungsi agar sabun yang dihasilkan cukup keras, dan olive oil berfungsi sebagai moisturizer. Sehingga ketiga kombinasi minyak alam tersebut dapat menghasilkan sabun natural yang baik.

Bahan apa saja yang diperlukan untuk membuat sabun natural?

Bahan yang digunakan dalam pembuatan sabun natural antara lain olive oil, coconut oil, palm oil, ekstrak tanaman (untuk memberikan efek tambahan ketika digunakan dan biasanya memiliki khasiat tertentu, misalnya ekstrak mawar memiliki efek antioksidan), NaOH (digunakan dalam reaksi saponifikasi), air, dan fragrance (sesuai kebutuhan).

Bagaimana proses pembuatan sabun natural?

Prinsip dasar pembuatan sabun natural yaitu mengikuti prinsip pembentukan emulsi. Seperti pembuatan emulsi pada umumnya, bahan dibagi menjadi 2 fase yaitu water phase dan oil phase. Awalnya, NaOH dan air dicampurkan. Pada saat pencampuran NaOH dan air, terjadi suatu reaksi yang menghasilkan kalor, yang disebut reaksi eksoterm. Campuran NaOH dan air yang merupakan water phase ini menghasilkan suhu yang cukup tinggi yaitu sekitar 90°C. Sambil menunggu suhu campuran NaOH dan air turun sampai pada suhu tertentu, dilakukan pencampuran bahan-bahan lainnya yang merupakan oil phase dan dipanaskan hingga mencapai suhu yang sama dengan campuran NaOH dan air. Setelah suhu kedua fase mencapai pada suhu yang sama, kedua fase dicampurkan. Pada saat pencampuran ini terjadi suatu reaksi yang disebut reaksi saponifikasi. Reaksi saponifikasi merupakan suatu reaksi kimia antara basa (misalnya NaOH atau KOH, biasa disebut dengan istilah lye) dengan trigliserida (lemak dan minyak) yang kemudian menghasilkan suatu substansi baru yaitu sabun dan gliserol.


Reaksi saponifikasi ini dapat mencapai pH 8 – 9 yang bisa menyebabkan iritasi jika diaplikasikan pada kulit. Sehingga untuk mengatasinya dilakukan lye discount dan superfatting. Lye discount merupakan pengurangan jumlah NaOH yang digunakan, sementara superfatting adalah melebihkan minyak yang digunakan ke dalam racikan sabun; minyak yang ditambahkan biasanya 5 – 8% tetapi bisa juga dalam rentang 1 – 12%. Kedua proses ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada basa yang tersisa pada produk akhir.

Itu dia sekilas perkenalan kita dengan sabun natural. Sekarang kita bisa tahu bedanya sabun natural dengan sabun biasakan?

Nah, who’s up for beautiful and healthy skin?

Referensi:

Narasumber       :

Nama                     : Amirah Adlia Alkaff, M.Si, Apt

Institusi                : Wangsa Jelita (www.wangsajelita.com)

E-mail                    : amirah711@gmail.com

Sumber gambar:  http://chemistry.about.com/library/weekly/blsapon.htm

AIDS World Day

01/12/2011
tags: , ,
by

Setiap tahunnya, pada tanggal 1 Desember, seluruh dunia memperingati Hari AIDS Sedunia sebagai salah satu bentuk wujud kepedulian masyarakat dunia untuk mengurangi penyebaran virus HIV AIDS. Meskipun pada kalender hanya diperingati selama 1 hari, bukan berarti kita boleh lupa pada 364 hari lainnya. Keberadaan virus ini di sekitar kita memerlukan perhatian penuh dari kita semua. Umumnya kita akan melihat beberapa orang mengenakan pita merah atau red ribbon  sebagai simbol kepedulian dan solidaritas terhadap penyebaran virus HIV. Meskipun hanya sebagai simbol, namun diharapkan keberadaannya dapat menjadi “pengingat” bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaannya.

Berdiskusi mengenai AIDS berarti tidak selalu soal penyebaran virusnya saja, namun juga  mengenai para penderitanya, dalam hal ini kita mengenal ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Mereka, sangat membutuhkan perhatian kita dari segi materi maupun moril. Sayangnya masih ada beberapa orang yang memiliki pandangan sempit terhadap para ODHA sehingga membuat mereka terkucilkan. Sebagian besar dari beberapa orang tersebut takut akan tertular, sehingga merasa tidak melakukan kontak dalam bentuk apapun adalah jalan terbaik. Diskriminasi seperti ini dapat menjadi penghambat. Selain itu, pengetahuan yang minim mengenai penyakit ini juga dapat menjadi kendala yang cukup besar dalam upaya menghambat penyebaran virus HIV dan juga penanganan ODHA.

 

Lalu apa sebenarnya apa itu virus HIV? Bedanya dengan AIDS?

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah tipe retrovirus golongan Lentivirinae yang menginfeksi sel imun pada tubuh manusia. Lentrivirus dikelompokkan berdasarkan sifat dari siklus infeksinya yang lambat. Terdapat dua tipe HIV, yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV tipe 1 merupakan penyebab terbesar seseorang terjangkit AIDS. Sedangkan tipe yang ke-2 juga diketahui dapat menyebabkan seseorang terkena AIDS, meskipun tipe ini lebih tidak umum ditemukan dibanding tipe 1.

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan fase perkembangan terakhir ketika seseorang  telah dinyatakan HIV-positif. Pada fase ini tubuh orang yang memiliki virus HIV mengalami penurunan sistem imun yang sangat drastis, biasanya ditandai dengan jumlah CD4 (salah satu jenis sel imun) <200, sehingga menyebabkan orang tersebut mengalami komplikasi dari berbagai penyakit yang menyerangnya.

Seseorang yang dinyatakan HIV-positif tidak selalu merupakan penderita AIDS. Namun, jika seseorang terinfeksi virus HIV, maka orang tersebut memiliki potensi untuk berkembang menjadi penderita AIDS.

 

Bagaimana penyakit ini dapat menular?

Secara garis besar penyebaran penyakit ini terjadi melalui 3 cara : hubungan seks, parenteral, dan perinatal.

Hubungan seksual merupakan cara paling umum yang menyebabkan penularan virus HIV. Sampai saat ini cara paling aman untuk mencegah penyebarannya adalah dengan menggunakan alat kontrasepsi kondom, meskipun tidak sepenuhnya bebas resiko.

Jalur parenteral juga memiliki peran dalam penyebaran virus. Pada metode ini seseorang terinfeksi HIV akibat paparan darah yang terkontaminasi. Paparan ini dapat disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi (tidak steril), pendonoran darah yang terinfeksi, tranfusi organ, dll. Pada metode ini, kasus yang berperan besar adalah penggunaan alat suntik secara bergantian pada pemakai narkoba.

Infeksi perinatal atau transmisi vertikal (penularan dari ibu ke anak) merupakan penyebab umum terjadinya infeksi HIV pada bayi. Sebagian besar infeksi terjadi ketika masa kehamilan. Beberapa hal yang dapat menyebabkan penularan antara lain pecahnya air ketuban, infeksi genital selama hamil, kelahiran prematur, proses melahirkan secara normal, dll. Proses menyusui juga dapat menjadi salah satu cara penularan infeksi virus HIV. Jika anda HIV-positif dan sedang  atau berencana untuk hamil, konsultasikanlah dengan dokter anda untuk melakukan tindakan pencegahan menularnya virus dari ibu ke anak.

Terdapat beberapa gejala yang dapat timbul ketika seseorang terinfeksi HIV antara lain demam, radang tenggorokan, menurunnya berat badan, diare, mual, muntah, dll. Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi HIV karena gejala yang timbul hanya seperti gejala sakit biasa. Bahkan beberapa orang dapat tidak menunjukkan gejala sama sekali. Untuk memastikan apakah seseorang dinyatakan HIV-positif atau tidak, maka perlu dilakukan tes terhadap antibodi yang muncul karena adanya infeksi HIV. Karena perkembangan virus yang sangat lambat, maka disarankan untuk melakukan tes sekitar 3 minggu setelah perkiraan waktu terinfeksi. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan seseorang dari infeksi virus HIV. Ketika seseorang terinfeksi virus HIV maka fokus utamanya adalah bagaimana menjaga kualitas hidup orang tersebut agar dapat memperpanjang harapan hidupnya.

JIka setelah melakukan test kita dinyatakan HIV-negatif, kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan terhadap tubuh kita. Penerapan gaya hidup sehat dapat menjadi salah satu upaya untuk menghindari infeksi HIV. Kita boleh saja menghindari virusnya, namun perlu diingat juga bahwa jangan sampai kita menghindari para penderitanya juga tau ODHA. Terutama anak – anak yang tidak berdosa namun harus menanggung penderitaan karena terinfeksi HIV dari orang tuanya. Bekali diri kita dengan pengetahuan yang cukup sebagai bekal untuk membentengi diri kita dari penyebaran virus HIV.

Sebagai generasi muda Indonesia yang cerdas sudah menjadi tugas kitalah untuk berusaha membantu pencegahan penyebaran virus ini. Terasa berat?? Tenaang. Kita bisa mulai dengan hal – hal kecil seperti : membaca artikel ini sampai tuntas, mencari tahu lebih banyak lagi mengenai HIV, lalu menyebarkan manfaatnya ke temen2 yang lain. Mudah kan? 😀

Referensi:

Dipiro, Joseph T., et.al., 2008, Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach, 7th Ed, New York: Mc Graw Hill, p. 2065-2082

http://www.unaids.org/

http://www.aidsindonesia.or.id/

http://www.worldaidsday.org/

http://www.odhaindonesia.org

Kisah Saya dan Ujian Apoteker ITB

02/11/2011

Well, hey hello. We finally meet again here…

Saya mau berbagi tentang masa-masa ujian apoteker kemaren. Here we go.

Ujian apoteker ITB itu penuh tantangan dan lika liku. Ini adalah ujian terpanjang dalam hidup saya. Selama 2 bulan saya mempertaruhkan sebagian besar waktu saya untuk ujian ini. Ujian yang menguras tenaga, pikiran, mental, dan tentu saja uang.

Saya sangat lega bisa melewatinya dengan baik sehingga bisa memperoleh gelar Apt yang kemudian akhirnya disisipkan di belakang nama saya. Alhamdulillah ya Allah.

Ujian apoteker ITB terdiri dari 2 tahap antara lain tahap 1 meliputi Ujian Penelusuran Pustaka (UPP) dan Ujian Lisan (Sidang) serta tahap 2 meliputi Ujian Lab.

Ujian Penelusuran Pustaka (UPP) Ini merupakan tahap inisiasi dari ujian apoteker. Beberapa minggu menjelang UPP, saya masih sibuk berkutat dengan laporan dan tugas khusus PKPA (atau bisa disebut juga Kerja Praktek a.k.a KP). Tidak banyak persiapan yang saya  lakukan, cuma baca hal-hal penting dan kira-kira penting atau yang tidak dimengerti.

Hari H ujian…

Sebelum ujian dimulai, peserta ujian dipanggil satu per satu untuk mengambil undian soal. Dan tiba giliran saya. Deg-degan bukan main, akhirnya saya buka gulungan kertas itu dan tadaaaa… “Sirup Acyclovir”. Senyum-senyum agak lega. Salah satu dosen saya yang jadi panitia ujian yang kebetulan berdiri disitu senyum-senyum liat saya sambil bilang, “Gampang kan? Kamu pasti bisa lah”. Baca selengkapnya…

Two Tickets to be Pharmacist

01/11/2011

Akhirnya.. akhirnyaa.. akhirnyaaa.. Setelah tepat setahun menjalani program profesi, akhirnya apoteker juga. Di satu sisi senang di sisi lain sadar bahwa beban di dunia ini bertambah. But, never mind.. Sekarang waktunya saya cerita tentang dua tiket yang menghantarkan saya menjadi seorang Apoteker. Tiket pertama disebut UJIAN APOTEKER dan yang kedua disebut PENGAMBILAN SUMPAH APOTEKER.

“UJIAN APOTEKER”

Saya, mendaftar di program profesi apoteker pada kelompok peminatan Produksi dan Pengawasan Mutu (PPM). Seperti yang telah diceritakan teman-teman saya sebelumnya, dalam ujian apoteker kali ini saya harus melalui dua tahapan yang sungguh menguras otak, otot, dan perasaan, yaitu:

  1. Ujian Penelusuran Pustaka dan Ujian Lisan
  2. Ujian Praktikum

Ujian penelusuran pustaka merupakan penentu nasib saya di ujian apoteker ini. Kenapa? Karena di ujian ini dilakukan pengundian soal yang akan menentukan keberjalanan ujian saya.

Pagi-pagi di ruang ujian, rombongan panitia pembawa undian soal datang diiringi perubahan raut wajah cemas para peserta ujian. Satu per satu kami mengambil undian dan akhirnya tiba giliran saya. Berjalan mantap mengambil kertas undian yang ternyata berisi:

SUSPENSI NISTATIN 10 BOTOL

Baca selengkapnya…

%d blogger menyukai ini: