Lanjut ke konten

Career Talk with Apt. Rusli : Apoteker Industri

18/07/2020

Halo Sobat Apoteker Bercerita!

Artikel kali ini masih bercerita mengenai karir Apoteker, khususnya karir seorang apoteker di Industri.

Tim Apoteker Bercerita berkesempatan berbincang dengan salah seorang teman lama yang sudah 9 tahun menjalankan karirnya sebagai seorang Apoteker Industri.

Salah satu topik bahasan yang kami perbincangkan terkait dengan artikel lama kami yang satu ini:

https://apotekerbercerita.com/2011/03/23/pekerjaan-apoteker-di-industri/

Apakah pekerjaan apoteker di industri pada artikel tersebut masih relevan dengan keadaan saat ini?

Apakah fungsi departemen Quality Assurance yang tim kami tuliskan 9 tahun lalu tersebut sudah tepat?

Mari simak realita karir Apoteker di Industri dari perbincangan kami berikut ini:

Semoga perbincangan tim Apoteker Bercerita dengan Apt. Rusli bisa memberikan gambaran buat sobat Apoteker Bercerita yang sedang memikirkan cita – cita atau jalur karir yang akan dipilih. Jika ada hal – hal yang ingin ditanyakan, Sobat Apoteker Bercerita bisa meninggalkan pesan melalui comment di artikel ini.

Semoga Bermanfaat!

Career Talk with Apt. Liana : Apoteker IFRS

16/07/2020

Halo Sobat Apoteker Bercerita!

Jumpa lagi setelah 7 tahun sejak posting terakhir kami di blog ini.

Kami kembali untuk benar – benar menjadi Apoteker Bercerita. Kami akan menampilkan cerita – cerita terkait realita karir seorang Apoteker.

Cerita pertama datang dari seorang teman yang bekerja sebagai Apoteker Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), Apt. Liana Debora. Simak diskusi kami berikut:

Semoga pemaparan dari Apt. Liana bisa memberikan gambaran buat sobat Apoteker Bercerita yang sedang memikirkan cita – cita atau jalur karir yang akan dipilih. Jika ada hal – hal yang ingin ditanyakan, Sobat Apoteker Bercerita bisa meninggalkan pesan melalui comment di artikel ini.

Semoga Bermanfaat!

Demam dan termos es!

20/10/2013
tags: ,
by

Pada suatu hari ada seorang pasien berkonsultasi dengan apoteker tentang demam tinggi yang dideritanya. Kondisi demamnya tidak juga mereda meski telah diberi obat. Hal pertama yang ditanyakan sang apoteker kepada pasien tersebut adalah tentang obat apa saja yang telah diminumnya. Kemudian pasien itu menjawab ada 1 jenis antibiotik, 1 jenis obat batuk, dan 1 jenis obat penurun panas.

Kemudian sang apoteker bertanya mengenai kondisi demam yang dialami pasien tersebut. Pasien pun  bercerita demamnya ini selalu muncul di malam hari sekitar pukul 8, hingga ia tidak bisa tidur karena matanya pun terasa sangat panas hingga menangis.

Apoteker pun kembali penasaran dan bertanya, “minum obat penurun panasnya biasanya kapan?”

Pasien menjawab,”karena di instruksikan jika panas, jadi saya meminumnya jika sudah sangat terasa demam..”

Mendengar hal itu, Apoteker pun menyarankan hal yang berbeda, “Setiap obat yang diminum itu butuh waktu hingga dapat berefek terhadap keadaan tubuh. Dalam bahasa sederhananya, obat ini butuh waktu buat sampai ke tempat kerjanya. Kemungkinan yang terjadi adalah ketika kamu minum obat penurun panasnya, kondisi tubuhmu sudah demam, karena obat belum juga sampai ke tempat kerjanya, suhu tubuhmu masih terus meningkat, makanya obat ini seperti tidak berefek. Mungkin saat kamu tidur baru ada efeknya. Nah, untuk hari ini coba minum obat nya di sore hari yaa..”

Pasien bertanya kembali, “kalau kompres sebenarnya perlu atau tidak ya?”

Apoteker menjawab, “oiya, boleh saja dikompres juga.. kemarin-kemarin saat demam, apa sudah dikompres juga?”

Pasien menjawab,” iya.. saya kompres dengan air dingin”

Mendengar jawaban pasien tersebut sang apoteker hanya dapat geleng – geleng kepala karena heran.

Cerita di atas adalah cerita nyata yang sempat saya temui, mungkin pertanyaannya disini adalah: kenapa sang apoteker hanya geleng – geleng kepala mendengar sang pasien mengompres dirinya dengan air dingin?

Nah berikut penjelasannya…

Mungkin sebagian kita pernah mengalami kejadian yang sama yaa.. Ketika suhu tubuh tinggi, ingin rasanya membantu keadaan ini dengan sesuatu yang dingin agar tubuh kembali normal. Dan saya yakin pula sebagian pembaca Apoteker Bercerita ini masih ada yang ingat sebuah iklan *yang mungkin menginspirasi tindakan kompres dengan air dingin* berikut:

“Bu Joko.. Bu Joko.. Bu Joko punya Es.. anak saya panas sekali”

“sebentar ya bu..”

Kemudian beberapa saat kemudian Bu Joko kembali dan tidak membawa es.

“Maaf,Bu..Jika anak saya demam biasanya saya beri *obat panas*”

“Apa? Termos es?”

Ya.. demikian cuplikan iklannya… Seperti tidak ada yang salah dengan urusan kompres air dingin ini ya?

Pembahasan tentang kondisi demam sendiri sudah pernah di published dalam blog ini dengan judul artikel: Demam dan Obat Penurun Panas

Lantas kenapa tidak boleh kompres dengan air dingin? Kunci jawabannya ada pada paragraf berikut:

“… ketika demam, termostat tubuh kita di set lebih tinggi daripada suhu normal tubuh. Oleh karena itu, suhu tubuh kita yang sebenarnya normal dianggap lebih rendah. Akibatnya, tubuh akan menggigil untuk menghasilkan panas yang melampaui suhu normal tubuh.”

Suhu tubuh dianggap lebih rendah, kemudian badan menggigil untuk menghasilkan panas yang lebih tinggi lagi. Ketika kita melakukan kompres dengan air dingin, maka rangsangan ini akan dibaca sebagai suhu yang lebih rendah lagi, akibatnya tubuh akan semakin berusaha untuk menghasilkan panas yang berlebih.

Terdengar simpel ya..

Haha.. ya begitulah memang mekanisme respon tubuh. So, jika tubuh demam, kompreslah dengan air hangat. Rangsangan ini yang akan dibaca tubuh sebagai suhu yang hangat, sehingga tubuh akan merespon dengan mengurangi panas yang dihasilkan dan suhu tubuh kembali normal.

Semoga artikel ini bermanfaat 🙂

Limfoma Hodgkin, Si Mata Burung Hantu.

24/12/2012

Halo kamu! Setelah sekian lama akhirnya kamu bisa lagi membaca tulisan di blog kita. Well, untuk sekarang, yang bakalan diceritakan adalah mengenai Limfoma, sesuai yang pernah dijanjikan sama admin twitter seminggu yang lalu. :p

Namun sayangnya tidak bisa secara sekaligus Limfoma dibahas, karena materinya yang begitu esensial dan sayang bila banyak dilakukan “cut”. Oleh karena itu, kita kali ini spesial akan membahas pendahuluan Limfoma dan Hodgkin’s Lymphoma dulu ya… 🙂

Mari kita mulai nge-Limfomanya yuk? 🙂

Pertama-tama, mari kita bahas pengertian dari Limfoma berdasarkan kata “Limfoma” atau dalam english bertuliskan “Lymphoma”, yang sebenarnya terdiri dari dua suku kata, yaitu “Lymph-“ dan “-Oma”. Which means, Lymph adalah sistem Limfatik dalam tubuh atau nodus Limfa, atau kelenjar getah bening. Sedangkan Oma adalah tumor ataupun kanker. Sedangkan untuk pengertian lebih jelasnya, Limfoma adalah kanker yang muncul akibat transformasi dari sel imun pada kelenjar getah bening. Lebih spesifik, limfoma dapat diartikan sebagai maltransformasi dari Limfosit (Sel B, Sel T, dan Sel NK). Masih ingat mengenai tentara Sel B, Sel T dan Sel NK (Natural Killer) kan? Itu loh, yang bertugas setia membunuh mereka yang mengancam keamanan negara (tubuh). 🙂

Secara garis besarnya, kamu bisa melihat gambaran sistem limfe yang tersebar di seluruh tubuh:

lymphsyspic

Yap! Di seluruh tubuh kita tersebar nodus limfa yang memiliki peranan penting dalam sistem pertahanan tubuh. Oleh karena itu, biasanya penderita Limfoma ditandai dengan adanya pembengkakan di nodus limfanya. Nah, untuk memperjelas gambaran nodus limfa, kamu bisa lihat gambar di bawah ini:

lymph node

Itu dia sekilas histologi tentang penyebaran nodus limfa dan limfanya sendiri. Secara histologi, Limfoma terbagi menjadi dua, Limfoma Hodgkin (Sel Reed-Stenberg) atau Limfoma non-Hodgkin (Marker Limfosit Sel B atau T).

Pendahuluan Limfoma selesai, saatnya kita masuk ke Limfoma Hodgkin!

Limfoma Hodgkin ditemukan oleh peneliti Drs. Carl Stenberg dan Dorothy Reed yang berhasil mendiskripsikan limfoma Hodgkin dengan adanya Sel Reed – Stenberg tersebut. Sehingga karakterisasi Limfoma Hodgkin Klasik dapat dilihat dengan keberadaan Sel Reed-Stenberg. Atau lebih dikenal dengan Sel mata burung hantu karena penampakannya yang mirip dengan mata burung hantu di bawah mikroskop.

220px-Reed-Sternberg_lymphocyte_nci-vol-7172-300

Tipikal Limfoma Hodgkin terjadi pada nodus limfa dan menyebabkan inflamasi sel, fibrosis, dan presentasi (1-2%) Sel Reed-Stenberg yang relatif kecil. Dan penelitian lebih lanjut menyatakan bahwa Sel Reed-Stenberg berasal dari Transformasi Sel B. Sel Reed – Steinberg sendir ekspres antigen CD30 dan CD15.

Patofisiologi secara umum, pada Transformasi kanker, proses transkripsi Sel B terganggu, sehingga mencegah ekspresi dan produksi dari messenger asam ribonukleat immunoglobulin, menyebabkan apoptosis, namun karena juga adanya perubahan jalur apoptosis, menyebabkan sel bertahan dan berkembang. Sel Reed-Stenberg overekspress faktor kB, yang diikuti dengan proliferasi sel dan sinyal antiapoptotic. Infeksi dengan virus maupun bakteri patogen mengatur regulasi faktor kB dan berperan dalam tejadinya limfoma Hodgkin. Hipotesis ini didukung dengan ditemukannya EBV (Epstain Barr Virus) pada tumor limfoma Hodgkin.

Limfoma Hodgkin memiliki beberapa tipe, seperti:

Nama Limfosit Predominan Mixed Celluarity Penurunan Limfosit Nodular Sklerosis
Prevalensi 5% 15-30% <1% 60-80%
Age Young Middle Old Young Female
Reed-Steinberg Low Moderate High No Specific with colagen surrounded
Survival Rate 90% 75% 45% 85%

Sekitar 70% pasien Hodgkin Limfoma memiliki bengkak nodus limfa yang tidak terasa sakit, dan biasanya terjadi pada nodus mediastinal. Pada pasien asimptomatik, limfoma Hodgkin dapat didiagnosis dengan ditemukannya massa mediastinal pada bagian dada menggunakan radiografi atau prosedur imaging lainnya. Asimptomatik adenopati pada bagian inguinal dan axillary dapat ditemukan pada diagnosis, namun kurang umum, dimana Waldeyer’s Ring dan Nodus epithroclear jarang muncul. Sekitar 25% dari pasien Limfoma Hodgkin menunjukkan gejala konstitusional (Simptom B) dan umumnya terjadi pruritus dan tidak signifikan dalam nilai prognosisnya.

mediastinal

Selain itu Limfoma Hodgkin memiliki pola distribusi yang unik, yaitu pola bimodal age distribution, yaitu memiliki kecenderungan terjadi pada umur 15-30 tahun, dan diatas 50 tahun.

Nah, sekarang kita akan melihat klasifikasi dari Limfoma itu sendiri yang membagi tubuh manusia menjadi dua bagian, yaitu sisi atas diafragma, dan sisi bawah diafragma. Klasifikasi ini berlaku untuk Limfoma Hodgkin maupun Limfoma Non Hodgkin.

Ann Arbor Classification:

ANNABOR

Stage I             : Terjadi pada satu nodus limfa di satu daerah

Stage II           : Terjadi pada dua atau lebih nodus limfa pada sisi diafragma yang sama

Stage III          : Terjadi pada nodus limfa di kedua sisi diafragma

Stage IV          : Menyebar ke seluruh jaringan dan organ

A : Asimptomatik

B : Simptomatik, demam, berkeringat di malam hari, turunnya berat badan lebih dari  10% dalam 6 bulan

X : Bulky disease, pembesaran atau perkembangan dari tumor limfoma.

  •   >sepertiga di daerah mediastinum
  •   >10 cm pembesaran dari dimensi maksimal nodus limfa

E : Adanya keterlibatan dari jaringan ekstralimfatik pada salah satu sisi diafragma.

S  :Adanya keterlibatan spleen

Terus apa yang terjadi ketika pasien didiagnosis menderita Limfoma? Itu berarti sistem pertahanan tubuh pasien akan sangat terganggu, belum lagi kesulitan dari penanganan ini yang sebenarnya bergantung banyak dari kemoterapi, dan sama-sama kita ketahui bahwa kemoterapi banyak memiliki efek samping yang merugikan bagi pasien. Salah satu contohnya adalah kurang selektifnya kemoterapi yang pada awalnya bertujuan menyerang sel kanker/tumor yang pertumbuhannya cepat, namun juga berimbas pada sel normal yang pertumbuhannya juga cepat. Salah satunya adalah sel-sel penyusun rambut. Oleh karena itu banyak pasien yang menjalani kemoterapi mengalami kebotakan. Belum lagi terapi yang dilakukan jangka lama.

Namun bila terapi ini tidak dilakukan dengan teratur dan penuh perhatian, sangat besar Limfoma akan menyebabkan kematian, baik karena kanker Limfoma itu sendiri, maupun karena adanya infeksi sekunder.

Berikut adalah faktor resiko yang mungkin beberapa diantaranya bisa dihindari dan sebisa mungkin kita menjauh dari Limfoma:

  1. Umur
  2. Jenis Kelamin, penelitian menyebutkan pria lebih memiliki resiko lebih besar dibandingkan dengan wanita.
  3. Genetik, seperti Lupus, Sindrom Sjögren, rheumatoid arthritis.
  4. Lingkungan, seperti terkena paparan Pestisida dan herbesida,senyawa kimia (benzena), “agent orange”.
  5. Adanya gangguan sistem imun, seperti HIV/AIDS, virus Epstein-Barr, Helicobacter Pylori.

Agaknya cukup sekian kali ini Limfoma bagian pertama, Limfoma Hodgkin. Tunggu ulasan Limfoma selanjutnya ya! Akan ada Limfoma Non Hodgkin beserta Terapi Hodgkin dan Non Hodgkin.

Referensi:

DiPiro, Joseph T., dkk, 2009, Pharmacotherapy Handbook, Seventh Edition, Mc. Graw – Hill Medical Publishing Division, New York.

National Cancer Institute  Http://www.cancer.gov/cancertopics/types/lung

 

Tentang Kesehatan Rambut

15/05/2012

Rambut kamu kusam, rontok dan patah-patah??

How can be you looked beautiful while your hair isn’t? You know the answer 😀

Tetapi di sini kita bukan akan membahas bagaimana menyulap rambut agar terlihat cantik. Kita akan membahas lebih dari itu, kita akan berbicara tentang seluk beluk rambut, bagaimana ia tumbuh, bagaimana merawat rambut, apa saja ‘penyakit yang menggerogoti rambut’, termasuk masalah rambut rontok, kebotakan, dan bagaimana mencegahnya, semuanya akan dibahas dari sudut pandang kesehatan.

Sebelum membicarakan teori, berikut jawaban beberapa teman ketika ditanya

Menurut kamu, apa yang menyebabkan rambut rontok?”:

“Rambut bisa rontok kalau terlalu sering atau ga sengaja ditarik-tarik” (Andy, 23 tahun, mahasiswa)

“Kurang vitamin atau mungkin ga cocok sama shampoo nya 😀 “ (Lady, 23 tahun, mahasiswa + model)

“Stress, usia, hormon, keturunan.” (Dheny, 23 tahun, karyawan swasta)

“Stress, perubahan hormon, misal karena hormon menyusui, pengaruh obat-obatan medis, misalnya efek samping obat, terapi kanker, dll.” (Dewi, 23 tahun, PNS)

“Keturunan” (Luh, 23 tahun, karyawan swasta)

“Transplantasi rambut itu gimana, sih?”

 “Belum pernah denger..” (Andy, 23 tahun, mahasiswa)

“Bibit rambutnya ditanem di kepala..” (Erdo, karyawan swasta)

“Pernah denger di tipi, orang kecelakaan pesawat. Rambutnya ga bisa numbuh jadinya ditanem deh satu satu” (Dewi, 23 tahun, PNS)

Di kepala, rambut bukan sekedar mahkota. Rambut menjadi buffer, melindungi kulit kepala dari sengatan panas atau tusukan dingin. Rambut tumbuh di seluruh permukaan kulit kecuali bibir serta telapak tangan dan kaki.

Rambut yang dapat terlihat oleh mata kita adalah sel mati. Sementara sel hidupnya, ada di bawah kulit kepala, diselubungi oleh suatu jaringan yang disebut folikel.

Sel rambut yang hidup atau akar rambut, memperoleh makanan melalui pembuluh darah di bawah folikel. Di sinilah sel rambut diproduksi. Sel rambut di dalam akar akan mengeras, kemudian mati  dan terdorong keluar oleh sel rambut baru sehingga seolah-olah ‘tumbuh’ menjadi helai rambut. Helai rambut tumbuh selama beberapa tahun, kemudian pertumbuhannya melambat antara 2–3 minggu lalu berhenti. Setelah berhenti tumbuh, rambut tetap di kepala sampai beberapa bulan, kemudian rontok. Folikel yang ditinggalkannya akan menjadi tempat pertumbuhan rambut yang baru. Pada umumnya, setiap orang memiliki folikel kurang lebih 120.000 folikel. Setiap folikel normalnya hanya mampu menumbuhkan rambut sampai sekitar 20 kali.

Hair shaft atau batang rambut terdiri dari 3 lapisan, dari dalam keluar disebut medulla, korteks, dan kutikula. Kutikula berfungsi untuk melindungi lapisan-lapisan yang lebih dalam. Kutikula dapat mengalami kerusakan dan menyebabkan warna alami rambut hilang.

Hal-hal yang dapat memicu kerusakan kutikula di antaranya gangguan fisik yang berlebihan seperti paparan sinar matahari, polusi, angin, klorin, paparan suhu tinggi, teknik menyisir rambut yang salah, atau penggunaan bahan-bahan kimia seperti pewarna, pelurus, maupun pengkeriting rambut tanpa perawatan yang cukup, sirkulasi darah ke folikel rambut kurang, terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak, stres, atau kemoterapi. Kerusakan rambut dapat memicu kebotakan. Dalam bahasa kesehatan, kebotakan disebut alopecia.

Ada berbagai macam tipe kebotakan (alopecia) :

1.          Alopecia areata

Bentuknya bulat atau oval, satu atau di beberapa tempat di kulit kepala. Belum jelas apa penyebab pastinya, namun diduga karena kurangnya nutrisi, keturunan, stress, yang dapat memicu kerontokan rambut lebih cepat dari yang seharusnya. Jika rambut terlalu sering rontok dan folikel sudah mencapai batas maksimumnya memproduksi rambut, maka folikel akan mati dan tidak ada lagi rambut yang tumbuh di folikel tersebut. Jika ini terjadi pada banyak folikel sekaligus maka dapat memicu kebotakan.

2.            Androgenetic alopecia

Kebotakan tipe ini dialami pria dewasa karena dipengaruhi oleh hormon testosteron.  Di dalam tubuh, hormon ini dapat bereaksi dengan enzim 5-alpha-reductase, dan berubah menjadi dehydrotestosterone (DHT). DHT memicu pengecilan ukuran folikel sehingga rambut mudah rontok. Biasanya rambut berikutnya yang tumbuh ketebalannya berkurang dari rambut normal. Terapi untuk kebotakan jenis ini biasanya dengan obat-obatan seperti minoxidil, finasteride, atau hormon estrogen, tetapi hanya boleh diberikan dengan resep dokter.

3.            Congenital alopecia

Kebotakan ini disebabkan oleh kelainan gen. Biasanya saat lahir rambut masih tumbuh normal namun hanya dalam beberapa bulan mengalami kerontokan dan tidak tumbuh lagi atau ketebalan rambut menipis. Kebotakan jenis ini jarang sekali terjadi.

4.            Alopecia pityrodes

Kebotakan yang dipicu oleh ketombe (dandruff). Kebanyakan dialami pada masa puber. Rambut tipis dan kusam. Diatasi dengan menghilangkan dandruffnya.

5.            Trichotillomania

Kebotakan yang disebabkan oleh tingkah laku pada masa kanak-kanak yang tidak terkontrol, menarik rambut sendiri hingga rontok. Pendekatan psikiatri perlu dilakukan untuk mengatasinya.

6.            Scarring alopecia

Kebotakan karena folikel rusak misalnya akibat kecelakaan, terbakar, dan sebagainya. Terapi hanya dengan jalan operasi.

Operasi adalah jalan terakhir mengatasi kebotakan bila cara-cara pencegahan seperti perawatan rutin dengan vitamin, creambath, hair tonic, sudah tidak berhasil mengurangi kerontokan rambut, dan kebotakan sudah meluas dan permanen. Operasi yang dilakukan yaitu tranplantasi rambut.

Pada transplantasi rambut, rambut dipindahkan dari kulit kepala yang lebih lebat ke kulit kepala yang botak. Sama halnya cangkok jantung, transplantasi rambut pun beresiko terjadi penolakan dari tubuh yang ditransplantasi.

Kita semua beresiko mengalami kebotakan. Dan kebotakan bisa jadi permanen. Jadi, sebelum terlambat, yuk rajin merawat rambut… 😀

Mau tau lebih banyak tentang rambut? Cek linimasa kita di twitter ya.. 😀

Referensi :

  • Begoun, Paula. 2004. Don’t Go Shopping Hair Care Product Without Me. California :Publisher Group West
  • Poeradisastra, Ratih. 2006. Cara Mencegah Kebotakan. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Wong, H.W. 2012. Seminar Lecture: Disorder of Hair. Dermato Venereology, Medical Faculty of UKRIDA.
%d blogger menyukai ini: