Lanjut ke konten

Career Talk with Apt. Adi, Apt. Chelson , Apt. Danie, Apt. Maria, Apt. Muhyi : Apoteker Industri

08/08/2020

Hai Sobat Apoteker Bercerita!

Seri kali ini spesial, karena tim Apoteker Bercerita berkesempatan berbincang – bincang langsung dengan 5 orang rekan Apoteker yang sudah berpengalaman di Industri Farmasi. Lima orang rekan Apoteker ini juga bekerja di bidang yang cukup spesial untuk seorang Apoteker.

Apakah bidang pekerjaan spesial itu?

Yaa.. Packaging Development

Berdasarkan pengalaman, Tim Apoteker Bercerita bidang ini tidak pernah diperkenalkan baik semasa kuliah farmasi maupun profesi apoteker. Melalui artikel ini, Tim Apoteker Bercerita ingin Sobat Apoteker Bercerita bisa memahami dan mengenal lebih jauh terkait keberadaan Apoteker di bagian Packaging Development suatu Industri Farmasi, sehingga Sobat Apoteker Bercerita yang saat ini masih di bangku sekolah maupun kuliah semakin terbuka wawasannya terkait dengan karir Apoteker yang begitu luas.

Simak hasil bincang – bincang tim Apoteker Bercerita berikut ini:

Semoga perbincangan tim Apoteker Bercerita dengan Apt. Adi, Apt. Chelson, Apt. Danie, Apt. Maria, dan Apt. Muhyi bisa memberikan gambaran buat sobat Apoteker Bercerita yang sedang memikirkan cita – cita atau jalur karir yang akan dipilih. Jika ada hal – hal yang ingin ditanyakan, Sobat Apoteker Bercerita bisa meninggalkan pesan melalui comment di artikel ini.

Semoga Bermanfaat!

Career Talk with Apt. Dewi : Apoteker di Badan Regulasi

25/07/2020

Kali ini tim Apoteker Bercerita berkesempatan untuk berbincang dengan Apt. Dewi salah seorang Apoteker di Badan Regulasi. Apt. Dewi juga merupakan salah satu author di blog Apoteker Bercerita ini.

Sudah 9 tahun berlalu sejak Apt. Dewi bersama tim Apoteker Bercerita mulai menulis terkait karir Apoteker dengan segala keterbatasan pengetahuan sebatas teori. Sekarang, Apt. Dewi kembali membawa cerita langsung dari realita kehidupan seorang Apoteker di Badan Regulasi.

Semoga perbincangan tim Apoteker Bercerita dengan Apt. Dewi bisa memberikan gambaran buat sobat Apoteker Bercerita yang sedang memikirkan cita – cita atau jalur karir yang akan dipilih. Jika ada hal – hal yang ingin ditanyakan, Sobat Apoteker Bercerita bisa meninggalkan pesan melalui comment di artikel ini.

Semoga Bermanfaat!

Career Talk with Apt. Rusli : Apoteker Industri

18/07/2020

Halo Sobat Apoteker Bercerita!

Artikel kali ini masih bercerita mengenai karir Apoteker, khususnya karir seorang apoteker di Industri.

Tim Apoteker Bercerita berkesempatan berbincang dengan salah seorang teman lama yang sudah 9 tahun menjalankan karirnya sebagai seorang Apoteker Industri.

Salah satu topik bahasan yang kami perbincangkan terkait dengan artikel lama kami yang satu ini:

https://apotekerbercerita.com/2011/03/23/pekerjaan-apoteker-di-industri/

Apakah pekerjaan apoteker di industri pada artikel tersebut masih relevan dengan keadaan saat ini?

Apakah fungsi departemen Quality Assurance yang tim kami tuliskan 9 tahun lalu tersebut sudah tepat?

Mari simak realita karir Apoteker di Industri dari perbincangan kami berikut ini:

Semoga perbincangan tim Apoteker Bercerita dengan Apt. Rusli bisa memberikan gambaran buat sobat Apoteker Bercerita yang sedang memikirkan cita – cita atau jalur karir yang akan dipilih. Jika ada hal – hal yang ingin ditanyakan, Sobat Apoteker Bercerita bisa meninggalkan pesan melalui comment di artikel ini.

Semoga Bermanfaat!

Career Talk with Apt. Liana : Apoteker IFRS

16/07/2020

Halo Sobat Apoteker Bercerita!

Jumpa lagi setelah 7 tahun sejak posting terakhir kami di blog ini.

Kami kembali untuk benar – benar menjadi Apoteker Bercerita. Kami akan menampilkan cerita – cerita terkait realita karir seorang Apoteker.

Cerita pertama datang dari seorang teman yang bekerja sebagai Apoteker Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS), Apt. Liana Debora. Simak diskusi kami berikut:

Semoga pemaparan dari Apt. Liana bisa memberikan gambaran buat sobat Apoteker Bercerita yang sedang memikirkan cita – cita atau jalur karir yang akan dipilih. Jika ada hal – hal yang ingin ditanyakan, Sobat Apoteker Bercerita bisa meninggalkan pesan melalui comment di artikel ini.

Semoga Bermanfaat!

Demam dan termos es!

20/10/2013
tags: ,
by

Pada suatu hari ada seorang pasien berkonsultasi dengan apoteker tentang demam tinggi yang dideritanya. Kondisi demamnya tidak juga mereda meski telah diberi obat. Hal pertama yang ditanyakan sang apoteker kepada pasien tersebut adalah tentang obat apa saja yang telah diminumnya. Kemudian pasien itu menjawab ada 1 jenis antibiotik, 1 jenis obat batuk, dan 1 jenis obat penurun panas.

Kemudian sang apoteker bertanya mengenai kondisi demam yang dialami pasien tersebut. Pasien pun  bercerita demamnya ini selalu muncul di malam hari sekitar pukul 8, hingga ia tidak bisa tidur karena matanya pun terasa sangat panas hingga menangis.

Apoteker pun kembali penasaran dan bertanya, “minum obat penurun panasnya biasanya kapan?”

Pasien menjawab,”karena di instruksikan jika panas, jadi saya meminumnya jika sudah sangat terasa demam..”

Mendengar hal itu, Apoteker pun menyarankan hal yang berbeda, “Setiap obat yang diminum itu butuh waktu hingga dapat berefek terhadap keadaan tubuh. Dalam bahasa sederhananya, obat ini butuh waktu buat sampai ke tempat kerjanya. Kemungkinan yang terjadi adalah ketika kamu minum obat penurun panasnya, kondisi tubuhmu sudah demam, karena obat belum juga sampai ke tempat kerjanya, suhu tubuhmu masih terus meningkat, makanya obat ini seperti tidak berefek. Mungkin saat kamu tidur baru ada efeknya. Nah, untuk hari ini coba minum obat nya di sore hari yaa..”

Pasien bertanya kembali, “kalau kompres sebenarnya perlu atau tidak ya?”

Apoteker menjawab, “oiya, boleh saja dikompres juga.. kemarin-kemarin saat demam, apa sudah dikompres juga?”

Pasien menjawab,” iya.. saya kompres dengan air dingin”

Mendengar jawaban pasien tersebut sang apoteker hanya dapat geleng – geleng kepala karena heran.

Cerita di atas adalah cerita nyata yang sempat saya temui, mungkin pertanyaannya disini adalah: kenapa sang apoteker hanya geleng – geleng kepala mendengar sang pasien mengompres dirinya dengan air dingin?

Nah berikut penjelasannya…

Mungkin sebagian kita pernah mengalami kejadian yang sama yaa.. Ketika suhu tubuh tinggi, ingin rasanya membantu keadaan ini dengan sesuatu yang dingin agar tubuh kembali normal. Dan saya yakin pula sebagian pembaca Apoteker Bercerita ini masih ada yang ingat sebuah iklan *yang mungkin menginspirasi tindakan kompres dengan air dingin* berikut:

“Bu Joko.. Bu Joko.. Bu Joko punya Es.. anak saya panas sekali”

“sebentar ya bu..”

Kemudian beberapa saat kemudian Bu Joko kembali dan tidak membawa es.

“Maaf,Bu..Jika anak saya demam biasanya saya beri *obat panas*”

“Apa? Termos es?”

Ya.. demikian cuplikan iklannya… Seperti tidak ada yang salah dengan urusan kompres air dingin ini ya?

Pembahasan tentang kondisi demam sendiri sudah pernah di published dalam blog ini dengan judul artikel: Demam dan Obat Penurun Panas

Lantas kenapa tidak boleh kompres dengan air dingin? Kunci jawabannya ada pada paragraf berikut:

“… ketika demam, termostat tubuh kita di set lebih tinggi daripada suhu normal tubuh. Oleh karena itu, suhu tubuh kita yang sebenarnya normal dianggap lebih rendah. Akibatnya, tubuh akan menggigil untuk menghasilkan panas yang melampaui suhu normal tubuh.”

Suhu tubuh dianggap lebih rendah, kemudian badan menggigil untuk menghasilkan panas yang lebih tinggi lagi. Ketika kita melakukan kompres dengan air dingin, maka rangsangan ini akan dibaca sebagai suhu yang lebih rendah lagi, akibatnya tubuh akan semakin berusaha untuk menghasilkan panas yang berlebih.

Terdengar simpel ya..

Haha.. ya begitulah memang mekanisme respon tubuh. So, jika tubuh demam, kompreslah dengan air hangat. Rangsangan ini yang akan dibaca tubuh sebagai suhu yang hangat, sehingga tubuh akan merespon dengan mengurangi panas yang dihasilkan dan suhu tubuh kembali normal.

Semoga artikel ini bermanfaat 🙂

%d blogger menyukai ini: